Kamis, 18 Desember 2008

IT - Chapter 2

Title: Innocent Trap

Pairing: Pi – Chanaka

Genre: Shounen-ai, Angst, Tragedy.


Chapter 2: Under the pale moonlight

You know

The biggest fear in my life

Is losing you...

Kamakari, laki-laki tinggi itu duduk dengan santai di balik mejanya. Tangannya memain-mainkan pulpen sembari sibuk membaca beberapa dokumen yang harus ditanda-tangani. Ia menelantarkan Tomo di ruangannya selama beberapa menit hingga akhirnya semua bodyguard dan sekretarisnya-pun keluar dari ruangannya.

“Jadi?” Kamakari berdiri, merapihkan jasnya, membenarkan letak dasinya yang agak miring-miring.

Tomo melongo, belagak bego, tapi ia tahu maksud sebenarnya. “Nani?”

Kamakari tersenyum licik kemudian mengeluarkan pematik besar berbentuk puteri duyung berwarna emas (diduga terbuat dari emas 22 karat), mengambil sebatang rokok berwarna hitam yang sangat tipis dan panjang, kemudian menyulutnya perlahan. “Jangan bercanda. Kau jelas tahu apa yang kumaksud. Aku tidak ingin main kucing-kucingan, Yamashita.”

Tomo mendelik, menatap tajam dan lurus ke mata picik penuh maksud bulus milik Kamakari. “Oke, cuma antar kan? Kemana?”

Kamakari mendekat ke belakang Tomo, memeluknya dari belakang, kemudian menyelipkan secarik kertas ke kantung di jaketnya. “Tidak tertarik?” tanyanya, berbisik tepat di telinga Tomo.

Tomo langsung menghindar. “Kalau begitu aku akan langsung pergi,” ujar Tomo, membungkuk, lalu segera berbalik menuju pintu, sama sekali tidak menoleh kembali kepada Kamakari-san.

Begitu keluar, Tomo tidak bisa menemukan Yuki. Makhluk-makhluk berseragam jas hitam itu juga sama sekali tidak mau buka mulut. Mulai panik. Tapi tidak ingin meminta bantuan pada Kamakari. Namanya sama saja cari mati. Lama-lama Tomo mulai panik. Adik yang sangat disayanginya itu tak dapat ditemukan olehnya. Sementara sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu semenjak Tomo keluar dari ruangan Kamakari. Di tengah kebingungannya itu, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Bertubuh kecil, mungil, dan berambut agak kecokelatan. Dengan wajah lesu dan lusuh.

“Yuichi!” suara Tomo yang lantang segera berteriak memanggilnya. Yucihi menoleh. Setengah tidak sadar. Matanya terlihat tidak begitu bercahaya. Ia nampak sangat tidak bersemangat. Tomo segera berhambur menghampirinya, memeluknya erat-erat. “Aku pikir aku kehilanganmu lagi,” ujar Tomo setengah berbisik di telinga kanan Yuichi.

Tapi Yuichi tak menyahut.

- Evening, 8 PM –

Tomo menutup kepalanya dengan topi berwarna hitam dengan coret putih di beberapa sisinya, terlihat seperti corak macan putih. Jaket kulit hitamnya nampak menjuntai menutupi tubuhnya hingga pahanya, cocok untuk musim gugur yang dingin. Terlihat misterius? Ia berusaha untuk nampak seperti itu. Ah, sok gaya. Ia memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu bot berwarna hitam. Sebelum pergi, ia tersenyum tipis, melemparkan tatapan singkat pada catatan di atas kulkas yang bertuliskan:

Aku kerja malam ini. Pub Dilothre. Mampirlah kalau ada waktu. Yuichi.

My, ini adalah sebuah kejadian yang sangat langka dalam hidup Tomo. Untuk yang pertama kalinya Yuichi memberikan nama tempat ia berkerja. Diundang? Tentu Tomo akan datang dengan senang hati. Setelah ia menyelesaikan tugas sial ini tentunya.

Bus umum setidaknya masih beroperasi. Tomo naik dan duduk di pojok paling belakang lalu menutupi wajahnya dengan menenggelamkan topinya lebih dalam. Sementara tangan kanannya terus memastikan bahwa ‘barang’ itu tetap aman di dalam saku jaketnya di bagian dalam.

Sampai di terminal pemberhentian dekat daerah pembuangan, Tomo turun. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Sepi. Tak ada seorangpun yang lewat. Ia melangkah dengan hati-hati. Gelap, hanya ada lampu remang-remang yang tak meyakinkan kapan akan putus. Ia berjalan menuju ke daerah yang lebih gelap dan lebih dalam. Kotor dan bau. Banyak makhluk malam berkeliaran dengan liar di sana. Dan kemudian akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Sebuah garasi tua dengan tutup seng yang terkoyak dan penuh coretan pilox. Tomo mengetuknya empat kali. Lalu sebuah suara menyahut dari dalam.

“Siapa?”

Kami wa shinsetsu desu...” sebuah kata kunci yang aneh. Kamakari sudah memberi tahu di akhir notesnya.

Terdengar suara ribut-ribut dari dalam, gelontangan-gelontangan barang yang tak berguna. Dan akhirnya tutup seng itu terbuka. Seorang laki-laki dengan otot kekar dan brewok yang mantap keluar. Mendelik ajam pada Tomo, yang dibalas dengan pelototan manis. Ia mengantar Tomo masuk ke dalam, bertemu dengan boss-nya. Tomo mengenal boss itu dengan baik. Sudah beberapa tahun ia mengantarkan ‘barang’ ke gembong penjahat itu.

“Lama tak jumpa, Tomohisa-kun~” nada suaranya juga tak pernah berhenti mengejek. “Wajahmu juga tidak pernah ditekuk.” – (Hirofumi Araki).

Kisashiburidane, Hirofumi-san. Rambutmu terlihat indah hari ini,” ujar Tomo, sedikit tersenyum, dengan mata yang masih terhalang topi. Apa perdulinya dengan kesopanan pada laki-laki di depannya? Tidak ada. Sementara Hirofumi asyik menyibak-nyibakkan rambutnya yang panjang dan lurus, seperti orang yang salah tempat, di daerah sekotor ini, ia malah paling terlihat bersih apalagi dengan sosoknya yang narsis.

“Mulutmu juga pintar. Diajari banyak hal oleh Kamakari?”

Tomo hanya merogoh sakunya, menarik kantong berwarna cokelat tua, kemudian melemparkannya ke arah Hirofumi. “Antaran dari Kamakari.”

Hirofumi kembali menyibakkan rambutnya, membuat Tomo mengernyit, sedikit kesal dengan tindakan makhluk narsis itu. Ia nampak mengecek isi bungkusan itu, kemudian memicingkan matanya lalu berpaling pada Tomo, tersenyum ‘setengah’ puas. No Way. He want to do it again? “Mana bayaranku?” tanya Tomo singkat.

“Kau tahu apa itu, right? Sebelumnya, mari sodara-sodara, kita bersenang-senang malam ini. Dan ups, jangan lukai wajahnya. Nanti Kamakari akan protes padaku. Aku tidak mau membuatnya marah kali ini~”

- Evening 9.15 PM -

Tomo berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju terminal perhentian bus. Setidaknya, jika ia beruntung, akan ada satu atau dua bus yang lewat ke daerah terpencil dan meragukan ini. Ia memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri dan kesakitan. Sial kau Hirofumi. Bagus kau masih tahu diri untuk tidak melukai wajahku. Tomo hanya bisa bersandar pada tiang stasiun. Topinya masih menempel dengan manis di kepalanya. Sementara beberapa gepok uang tergantung aman di dalam saku jaketnya. Tomo mengusap darah di mulutnya. Kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya yang berat. Nyaris pingsan karena sakit.

Namun ia tidak lupa akan janjinya pada diri sendiri.

Janji untuk mampir menemui Yuichi.

Dan ia tidak akan mengecewakannya.

Karena Tomo sangat mencintainya. Lebih dari apapun di dunia ini.

Dan mungkin menjadi satu-satunya penopangnya saat itu untuk tetap hidup dan berjalan. Ia menyeret kakinya dengan sedikit pasrah, merapat, menghalau hawa dingin. Nampak agak buram dan kabur, perlahan-lahan ia melihat titik cahaya kekuningan, makin lama makin dekat. Dan akhirnya bus itu berhenti tepat di depan terminal. Tomo menatapnya penuh harap, kemudian naik.

- Evening 9.25 PM -

Pub Dilothre, besar, anggun, dan khusus untuk orang-orang papan atas. Biasanya untuk orang biasa harus memiliki membership card. Istilah sok kerennya begitu. Padahal tak lebih dari bayaran-bayaran yang tak kalah mahal. Pub ini menjamin semua anggota komunitasnya adalah orang-orang yang bisa diajak berkerja sama, untuk mengerjakan pekerjaan kotor mereka tentunya.

Yuichi sedikit tersenyum kecil, sambil asyik mengelap gelas-gelas wine di depannya yang berderet dengan rapih. Seragam kerjanya sebagai pelayan nampak sangat mencolok baginya sendiri. Rompi merah marun dengan celana panjang hitam dan kemeja putih, eh? Sebenarnya Yuichi tak suka tapi mau apa dia?

Sayaka Akimoto (Anggota AKB), seorang gadis yang setahun lebih tua dari Yuichi nampak sibuk menghitung pemasukan kas. Ia sama-sama seorang part-timer dan berkerja pada Kamakari demi melunasi hutang-hutang keluarganya.

“Ada yang bisa kubantu, eh, Sayaka-san?” tanya Yuichi, ramah dan melemparkan sebuah senyum manis khas miliknya pada gadis berambut panjang itu.

Ia nampak terkejut kemudian panik sendiri dan berwajah kemerahan. “Eh, tidak perlu, tidak perlu, Nakamura-san. Dan oh, sebaiknya kau layani meja nomor dua belas itu. Dari tadi ia sudah mengaum-ngaum dengan tangannya yang panjang,” ujar Sayaka, agak genit, lalu menyodorkan nampan berisi sebotol vodka dan tiga gelas kosong.

Yuichi melongo. “Itu tugasmu kan?”

Sayaka mengatupkan kedua telapak tangannya kemudian membungkuk. “Onegai, Nakamura-san! Aku... agak takut pada mereka...” Yuichi bisa melihat tatapan sedih gadis itu. Dan akhirnya ia mengangguk.

Yuichi keluar dari counter barnya, mengangkat nampan tersebut, kemudian berjalan ke meja yang paling pojok. Dua orang pria, dikelilingi 4 wanita penghibur. Yang satu nampaknya adalah bosnya sementara yang satunya lagi nampak sangat gugup, tidak terbiasa berada di tempat se-nista ini, dan rasanya hanya bawahan rendahan yang sedang sial karena harus menemani bos-nya yang sinting itu untuk minum-minum. Padahal kalau boleh dibilang, bosnya itu nampak sangat muda. Tuan muda mungkin? Hmm...

“Permisi, tuan,” ucap Yuichi, sedikit memiringkan tubuhnya kemudian menaruh botol vodka itu di meja beserta tiga gelas kosongnya. Yuichi sudah mau beranjak pergi ketika tangannya mendadak di tarik oleh seseorang—tuan muda itu.

“Kau minum?” tanya-nya, matanya yang bulat itu menatap Yuichi lekat-lekat.

“Emm.. ya kalau anda menghendaki saya juga bisa menjadi teman minum,” jawab Yuichi. Kesopanan adalah hal yang paling dijunjung tinggi jika ia ingin berkerja di bar tersebut. Kemudian Yuichi duduk di sebelahnya, menuangkan vodka tersebut dari gelas ke gelas.

Tuan muda itu nampak senang. Kemudian mengambil gelasnya dan mengajak toast.

Berkali-kali. Dan Yuichi dengan bodohnya tidak konsentrasi. Ia bahkan tak menyadari kalau pada saat-saat ia lengah, tuan muda itu telah memasukkan obat ke dalam gelas Yuichi. Akibatnya, beberapa menit kemudian ia sudah lunglai di bahu tuan muda itu.

Dengan singkat, tuan muda itu membopong Yuichi di lengangnya, berdiri, seakan tidak minum vodka sama sekali padahal kenyataannya sudah lebih dari 3 botol ia habiskan, lalu masuk ke kamar sewaannya di lantai 4 Bar itu, kamar VIP.

“Yuya-sama, perlu bantuan apa lagi?” tanya laki-laki yang dari tadi menemaninya duduk minum-minum sebelum Yuichi datang.

Yuya hanya mengelak kecil, memberi tanda tidak perlu dengan mengayunkan tangannya singkat. Dan pelayan itu pergi. Yuya menurunkan Yuichi di ranjangnya. Kemudian menatapnya dengan dalam. Wajah itu, wajah polos dan tak berdosa yang selalu Yuya pandang dari kejauhan. Tangannya merogoh sakunya, mengambil handphone-nya yang berwarna merah marun. Dan dengan cepat menekan tombol-tombol angka.

“Oke, Kamakari. Dia di tanganku,” ujar Yuya enteng, kemudian segera menutupnya dan melempar benda elektronik itu dengan cepat ke tempat sampah.

Yuya duduk di samping Yuichi, memegang tangannya. Kemudian mengelus-elus wajahnya. Dan mendaratkan kecupan manis di dahi Yuichi, bergeser ke bawah dan akhirnya sampai di lehernya, meninggalkan sebuah Kiss Mark yang sangat jelas di leher bagian kirinya. “Kau tahu Yuichi, aku sudah mencintaimu dan menunggumu begitu lama,” ujarnya kecil, kemudian perlahan-lahan membuka kancing baju Yuichi satu persatu.

Tubuh itu begitu indah. Dan Yuya tahu, tubuh itu sama sekali tidak bernoda dan bercela. So he will be the first, huh? Yuya tersenyum licik. Dan kemudian mencium Yuichi dengan penuh hasrat, seakan ingin memakan seluruh tubuhnya itu dengan mulutnya. Menimbulkan sedikit desahan-desahan kecil dari mulut Yuichi. Dan malampun membubung.

- Morning 4.30 AM -

Gelap. Dan.. Yuichi terbangun dari tidurnya yang lelap. Menyadari bahwa dirinya sudah tidak berpakaian secara utuh. Kepalanya berat dan sakit. Apa yang terjadi tadi malam? Mengapa ia tidak bisa ingat?

Yuichi nyaris saja menjerit keras-keras ketika ia melihat seorang laki-laki asing di sebelahnya andaikata ia tidak bisa menahan dirinya sendiri. Gila. Apa-apaan ini? Tunggu. Coba dipikir baik-baik. Siapa laki-laki itu, hmm?

Another costumer?

Deg.

Perlahan-lahan, rasa pedih yang tadinya sudah tertutup dengan rapih di dalam hati Yuichi mulai terbuka kembali. Hatinya terluka. Sakit. Dan putus asa. Seakan tidak ada harapan yang mampu menolongnya.

Kenapa ia bisa begitu saja menerima semua itu? Menerima semua peerbuatan laki-laki hina? Semua hanya untuk kakaknya. Kakak yang paling disayanginya. Yuichi sendiri pasti tahu. Kalau sebenarnya tuan muda yang dilayaninya tadi malam memang salah satu antek-antek kerja sama Kamakari.

Yuichi bangun perlahan-lahan, tidak berharap agar tuan muda itu tahu. Ia kemudian mengenakan kemejanya, dan kabur ke luar.

Bus umum sudah menanti di terminal. Sementara Yuichi masih tergopoh-gopoh berlari. Untungnya ia berhasil naik tepat waktu sebelum pintu bus di tutup. Ia duduk di pojok paling belakang, tempat favoritnya—yang juga tempat favorit orang itu. Pikirannya kacau. Malam tadi, ia kembali jatuh ke dalam jurang bernoda. Ia mengkhianati kakaknya secara tidak langsung. Seluruh perasaannya berkecamuk. Perasaan menyesal, bersalah, putus asa, dendam, amarah, kesedihan, dan cinta. Tanpa ia sadari, air matanya menitik, turun membasahi pipinya. Sementara matanya menatap galau pada pemandangan Tokyo pagi itu. Sakit. Hatinya sakit. Ia ingin segera pergi dari semua itu. Walau itu terasa tak mungkin.

Yuichi sampai di depan gedung apartemennya. Kemudian ia naik ke lantai empat melalui tangga. Di tapakinya satu demi satu. Hingga akhirnya sampai di depan rumahnya sendiri. Ia terdiam. Tangannya terasa kaku, tak mau membuka handel pintu.

Tapi tiba-tiba pintu terbuka.

Dan Yuichi menatap mata Tomo.

Ia terlihat begitu panik dan khawatir. Kemudian langsung menghambur keluar dan memeluk Yuichi.

“Tadaima...” ujar Yuichi, suaranya agak parau dan serak.

Sementara Tomo hampir tak bisa berkata apa-apa. Ia begitu khawatir karena tak dapat menemukan Yuichi tadi malam. “Okaerinasai...”

1 komentar:

Cross Marianne mengatakan...

di+kata kerja no spaces, dear..