Title: Innocent Trap
Pairing: Pi – Chanaka
Genre: Shounen-ai, Angst, Tragedy.
Chapter 1: Darkness inside me
Even we are tore appart
I will always be with you
With all my power
I will come to you and protect you
Seberkas cahaya putih masuk menerobos tirai-tirai putih transparan yang tergantung di jendela. Menabrak meja kayu kemudian jatuh di bawah tempat tidur, dekat kaki yang menggantung tanpa harapan, dibalut dengan selimut putih tipis. Musim panas sudah hampir berakhir. Daun-daun mulai mengering dan memerah. Tapi Yamashita Tomohisa belum memiliki selimut dan berbagai keperluan lainnya untuk menyambut musim dingin. Laki-laki itu menggeliat-geliat di atas tempat tidurnya. Cukup kedinginan. Apalagi jendela kamarnya baru saja rusak kemarin. Tidak bisa ditutup. Menyengsarakan setiap persendian dan tulangnya. Ia sama sekali tidak menggunakan selimut itu semalaman. Jauh lebih memilih untuk menyerahkannya pada sosok yang lebih kecil di sebelahnya, Nakamura Yuichi yang nampak tidur sangat pulas. Selimut menutupi seluruh tubuhnya. Tentu ia merasa sangat hangat.
Tomo bangun dari tempat tidurnya kemudian melangkahkan kakinya dengan langkah gontai menuju dapur. Harus memasak. Kalau tidak mereka berdua tidak akan makan apa-apa hari ini. Lututnya sakit. Kaku dan sulit digerakkan. Tapi ia terus memaksakannya. Ia membuka kulkas yang tingginya tidak lebih dari 130 senti itu. Nyaris kosong. Hanya ada beberapa sayur dan tiga butir telur. Juga sebotol kimchi—asinan khas korea—yang masih penuh. Mereka akan tetap hidup selama dua hari. Tapi Tomo terlalu lelah dan capek untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia baru saja kembali pukul 3 pagi ini. Hanya beristirahat selama tiga jam tidak cukup. Demi uang, ia bekerja mati-matian. Dan demi orang itu. Pisau ditangannya terpeleset dan jatuh. Nyaris melukai kakinya. Suaranya cukup keras. Tomo segera memungutnya.
Dan sebuah tangan dari belakang memegang tangan kanannya yang memegang pisau.
Tomo menoleh ke belakang. Yuichi ada di sebelahnya. Hanya berjarak beberapa senti meter. Senyuman manis laki-laki itu membuatnya tenang. Bahkan beberapa detik kemudian, Yuichi dengan cepat memainkan pisau itu di jari-jarinya. Memutarnya lalu mengiris satu demi satu timun sampai benar-benar halus dan tipis. Lima belas menit kemudian, sarapan pagi itu siap. Seperti pagi-pagi lainnya, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Suara Yuichi seperti terkunci atau membisu di pagi hari setelah ia pulang bekerja. Entah apa pekerjaan yang ia lakukan. Ia tidak pernah mau memberi tahu Tomo. Walaupun terkadang Tomo memaksanya untuk memberi tahu atau menguntitnya, entah bagaimana, Yuichi selalu bisa lolos.
“Itadakimasu~” seru Tomo kemudian melahap campuran timun lobaknya. Lezat. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan Yuichi dalam memasak memang sangat hebat, melampaui dirinya. Tomo bangga memiliki adik seperti Yuichi. Senyumnya selalu menghangatkan seisi rumah yang dingin. Perhatian Tomo segera teralih ketika matanya tidak sengaja melihat tanggal kalender. Tanggal 5. Sudah tenggat waktu. Ia harus menemui Kamakari-san. Tomo benci hari-hari seperti ini. Ia melirik Yuichi yang sedang sibuk melahap sarapan paginya. Hatinya serasa menjerit ketika harus ikut membawa bocah 18 tahun itu. Pikirannya masih kekanak-kanakan dan belum terbuka. Tomo tidak ingin menyeretnya masuk lebih dalam ke dalam sisi gelap Tokyo.
Tomo membereskan semua piring. Ketika bersiap untuk pergi, Yuichi sudah ada di depan pintu, menunggu Tomo untuk pergi ke markas Kamakari-san. Ah, sekali lagi mata itu. Mata yang menerobos masuk ke dalam hati. Mata bulat yang polos dan dalam. Tomo menghela napas. Tidak dapat berbuat banyak. Inilah masyarakat kecil yang bergantung pada lintah darat menjijikkan. Pernah mereka kabur tapi kemudian hasilnya malah jauh lebih buruk. Tomo sendiri tidak menyangka Yuichi dan dirinya akan diburu dengan gencar. Padahal mereka tak lebih dari semut-semut peliharaan Kamakari.
Tua bangka sialan.
Maunya Tomo juga berkata begitu pada Kamakari. Terang-terangan. Tidak pakai basa basi. Tapi kekuatan dan kekuasaan orang itu begitu besar dan tidak dapat di tolak.
Cuaca akhir musim gugur sangat dingin. Pohon-pohon di sepanjang trotoar nampak kemerah-merahan. Beberapa rontok dan mengotori jalanan. Yuichi sangat senang menendang-nendang setiap gumpalan daun kering. Senyum manis dan polos selalu terukir di wajahnya. Jaket cokelat pasir yang dikenakan Yuichi sangat kontras dengan hawa musim gugur. Sementara Tomo sama sekali tidak perduli dengan penampilannya yang seperti preman. Jaket kulit hitam panjang. Oke, tidak ada yang protes.
“Pakai ini,” ujar Yuichi dengan suara serak. Belum kembali seutuhnya. Syal merah yang membelit lehernya dikalungkan pada Tomo yang otomatis langsung terkejut dan berusaha menolak. “Dan jangan menolak,” tambahnya lalu berjalan lebih dahulu ke depan. Tomo sama sekali terpaku. Rasanya tidak lebih dari tiga belas tahun yang lalu semenjak mereka mulai hidup berdua, sendiri, tanpa kerabat dan sanak saudara, juga bantuan dalam mempertahankan hidup.
Nakamura Yuichi, laki-laki berumur 18 tahun. Keberadaannya seperti orang lain bagi Tomo. Entah mengapa, di dalam hatinya masih ada yang terus mengganjal. Walaupun ia sendiri mampu mengakui bahwa Yuichi adalah adik tirinya, hasil pernikahan ibunya dengan laki-laki lain. Wanita itu terlalu sibuk dengan urusan cintanya sendiri, tidak perduli dengan anak-anak maupun keluarganya. Kalau dibilang secara singkat, gadis nakal yang hobi bermain-main cowok. Ada perasaan dendam dan benci di dalam diri Tomo terhadap wanita itu karena ia telah menelantarkan Tomo dan Yuichi. Seperti yang telah terjadi 13 tahun yang lalu, di bulan yang sama, musim gugur...
- 13 tahun yang lalu –
Daun-daun mulai mengering. Meninggalkan banyak jejak di tanah. Seluruh Jepang seakan disihir hingga berwarna merah. Angin mulai bertiup kencang dengan membawa udara dingin yang cukup menusuk. Dua anak laki-laki berlari-lari kecil dibawah pepohonan merah. Keduanya nampak sangat antusias.
“Yu! Hati-hati nanti kau jatuh!” seru Tomo kecil dengan matanya yang bulat dan berbinar-binar. Napasnya mulai terputus-putus. Ia tidak bisa menyaingi Yuichi kecil yang gesit.
“Tidak akan! Ayo, cepat! Hari ini kita makan daging!” balas Yuichi kecil yang masih sibuk berlari di depan.
Daging. Sebuah kata-kata yang terdengar cukup asing di telinga kedua bocah tersebut. Hanya dalam acara-acara tertentu, mereka bisa makan daging. Selain karena harganya yang mahal, kedua makhluk yang statusnya adalah orang tua mereka itu sama sekali tidak pernah perduli dengan kedua anaknya. Lalu, dari mana daging yang akan datang itu? Dari paman mereka yang jelas lebih sayang kepada keponakannya.
Mereka berdua menaiki tangga-tangga yang curam dan tinggi. Butuh usaha dan waktu untuk sampai ke atas. Rumah mereka agak jauh dari keramaian kota, namun paling dekat dengan dunia malam. Yuichi berhasil sampai terlebih dahulu. Mereka sampai di sebuah apartemen kecil, kumuh, tapi cukup besar. Biaya sewanya murah karena lokasinya yang sangat tidak strategis dan dekat dengan tempat-tempat kotor.
Yuichi melepas sepatu kets putihnya ketika ia masuk ke dalam rumah. Ada peraturan. Dan itu yang paling Tomo benci. Baru saja mereka masuk, terdengar bunyi piring-piring yang pecah.
PRAAAANG~!!
‘Oke, apa lagi kali ini, huh?’ Tomo mendengus, mendekap Yuichi yang tubuhnya lebih kecil dan lebih pendek beberapa senti itu.
“Wanita kotor! Justru aku mempertanyakan kenapa bisa menikah denganmu!!”
‘Suara ayah? Bertengkar, lagi?’
Tidak ada suara. Namun bau asap rokok yang pekat membubung di dalam ruangan, tidak bisa keluar. Jelas sumber penyakit. Tomo memberanikan diri untuk menjulurkan kepalanya dari balik tembok, ingin tahu apa yang terjadi.
Dan dirinya begitu terkejut. Kaget. Tidak mampu berkata-kata.
Pamannya sedang asyik duduk di atas tempat tidur, masih asyik bercumbu dengan ibunya sementara ayahnya sudah mencak-mencak di sebelahnya. Ini namanya orang-orang tidak tahu etika, atau moral, atau... yah, sebagainya.
“Lebih baik kau diam, Sato,” jawab ibunya yang tampak sangat cuek. Tidak perduli dengan apapun, termasuk serpihan piring yang berserakan di lantai dekat tempat tidur mereka. “Kau tak punya hak untuk melarangku.”
“Oh, ya? Setelah apa yang kau lakukan, aku tidak punya hak?” Kali ini, habis sudah kesabaran ayahnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi kemudian dengan sekuat tenaga, menampar wajah cantik namun menjijikkan milik ibunya. Setelah itu mengambil tasnya, dan seluruh barang lainnya yang ia beli di rumah itu juga di angkut ke dalam mobil pickup-nya yang besar.
Yuichi menarik-narik kemeja ayahnya. “Chi chi, mau kemana?” tanyanya. Dirinya yang saat itu masih terlalu polos. Matanya tertuju ke depan. Tak ada sebesitpun noda yang ada pada dirinya.
Namun, ayah yang tidak bertanggung jawab itu menyamplak tangan Yuichi. “Aku tidak pernah memiliki apapun dengan wanita liar itu. Never,” ujarnya dingin. Dan beberapa menit kemudian, kedua bocah itu hanya menatap mobil pickup berwarna putih yang menuruni jalan penuh liku.
Kali itu, Tomo pertama kali melihat, air mata penuh kesedihan, kesepian, dan tumpahan perasaan Yuichi.
Ia menangis.
---
Bayangkan saja kalau seorang istri, malah selingkuh dengan adik dari suaminya. Yang terjadi adalah rumah tangga yang semakin hancur. Sementara sang ibu sama sekali tidak merasa kehilangan. Ia jadi semakin liar. Paman tinggal di rumah, menggantikan ayah. Tapi keadaan tidak berubah menjadi semakin baik.
GPLAAK!!
Lagi-lagi, ibu menampar Yuichi. Memukulnya dengan sapu. Atau kalau perlu diikat seperti hewan peliharaan. Tomo sering kali merasa kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa-bisa malah dia yang kena hukum.
Setiap hari, ibu pulang pagi dan pergi di malam hari. Ia selalu ada di rumah selama siang hari dan siap memerintah.
Hingga akhirnya suatu hari, Ibu membawa Tomo dan Yuichi untuk berjalan-jalan.
Dan sebuah hal yang mengerikan terjadi.
“Tunggu disini, oke? Awas kalau jalan-jalan,” ujar wanita itu dengan bibir yang masih merah karena lipstick yang lupa dihapus.
Namun setelah berjam-jam, ibu tidak kunjung kembali menjemput anak-anaknya. Padahal mereka berdua masih menunggu di stasiun kereta. Yuichi mulai kedinginan. Baju yang dikenakannya sudah usang dan tak mampu menahan udara dingin.
Bahkan hingga malam datang dan kereta sudah tidak beroperasi, mereka masih tetap menunggu. Tomo, masih belum bisa melupakan pengkhianatan paling kejam itu. Ia tidak berniat untuk kembali ke rumahnya, rumah yang dingin tanpa kasih sayang, Lebih baik hidup melunta-lunta dibanding harus kembali ke rumah terkutuk itu!
- Back to present time –
Seperti biasanya, gedung milik Kamakari sangat besar. Lintah darat. Tomo tahu apa yang akan terjadi kalau ia bertemu dengan Kamakari-san. Tapi entah apa yang Yuichi mengerti. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan urusan yang berat-berat.
Ketika masuk, empat orang dengan baju yang seragam, jas hitam plus kacamata, segera mencegat Tomo dan Yuichi. Kemudian digiring menuju lantai puncak, tempat Kamakari sedang asyik duduk dan bersantai, bermain di balik mejanya sambil menggoyang-goyangkan bidak catur bernama manusia.
Tomo duduk tepat di depannya, sementara Yuichi digiring ke tempat lain, seperti biasa. Seakan apa yang akan Tomo dan Kamakari katakan adalah rahasia besar, bahkan Yuichipun tidak perlu tahu. Tomo merasakan perasaan yang tidak enak. Kamakari tersenyum seperti biasa. Senyum sial. Pasti banyak maksud dibaliknya. Kamakari tidak tua, malah sangat muda. Umurnya dengan Tomo hanya terpaut 6 tahun lebih tua. Tapi sifatnya benar-benar seperti ero-jiji. Segeralah berbicara, Tomo tidak ingin berlama-lama disana, apalagi membawa masuk Yuichi ke dalam sarang penyamun itu. Hanya satu orang yang harus ia lindungi di dunia ini. Nakamura Yuichi...
