Rabu, 24 Desember 2008

Innocent Trap - Character

Mungkin banyak yang belum tahu gambaran karakter-karakter di dalam Fan Fiction ini. Karena itu, saya akan menambahkan gambar mengenai karakter-karakter tersebut.

1. Nakamura Yuichi.
Jika anda tahu, Nakamura Yuichi memiliki nick name yakni Channaka. Ia merupakan salah satu anak D-BOYS, sebuah grup di Jepang yang isinya merupakan aktor-aktor.

Channaka sudah banyak bermain film, seperti Princess Princess D (as Hanazono Otoya), Taiikukan Baby & Dokyusei (as Shibahara Jun), Kamen Rider Den-O (as Kamen Rider Zeronos), dan masih banyak lagi.

Aktor multi talenta ini adalah kesukaan sang penulis fan fic ini. *aduh, lihatlah wajahnya yang manis itu. Siapa yang bisa nolak, eh?*







2. Yamashita Tomohisa.
Mungkin anda sekalian lebih mengenal yang satu ini. Yamapi adalah leader dari boys band NEWS *hayoo... siapa yang enggak tahu?* =P

Yamapi pernah bermain di Proposal Daisasuken, Kurosagi, dan di Nobuta o produce. Selama yang saya lihat, Yamapi sebagai penyanyi juga sangat cocok sebagai aktor. Saya rasa, ia juga seorang selebriti yang multi-talented.












Mungkin beberapa orang bertanya, kenapa saya sang penulis malah menjodohkan Pi dengan Channaka. Mungkin alasannya konyol. Tapi, ah, siapa yang perduli, eh? Yang nulis toh juga saya. Saya sangat mengagumi kedua artis ini *Hemm.. meski saya yakin banyak yang berharap Pi dijodohkan saja dengan Ryo dan Channaka dengan Endo Yuya* XD

Innocent trap adalah Fan Fic pertama saya dalam bidang artis Jepang. Saya harap lain kali saya akan bisa menciptakan fan fic lain yang juga tidak kalah menarik. Hingga saat ini, Innocent Trap masih berlanjut di Chapter 2. Sudah hampir mencapai klimaks. Nanti akan saya perbaharui segera. Karena sekarang saya sudah memiliki ide baru untuk fan fic yang lain.

*penulis masih menanti dengan sangat akan subs untuk Dokyusei the Movie* =))

Last but not Least, Merry Christmas 2008 and Happy New Year 2009!! God Bless You all!!

Kamis, 18 Desember 2008

IT - Chapter 2

Title: Innocent Trap

Pairing: Pi – Chanaka

Genre: Shounen-ai, Angst, Tragedy.


Chapter 2: Under the pale moonlight

You know

The biggest fear in my life

Is losing you...

Kamakari, laki-laki tinggi itu duduk dengan santai di balik mejanya. Tangannya memain-mainkan pulpen sembari sibuk membaca beberapa dokumen yang harus ditanda-tangani. Ia menelantarkan Tomo di ruangannya selama beberapa menit hingga akhirnya semua bodyguard dan sekretarisnya-pun keluar dari ruangannya.

“Jadi?” Kamakari berdiri, merapihkan jasnya, membenarkan letak dasinya yang agak miring-miring.

Tomo melongo, belagak bego, tapi ia tahu maksud sebenarnya. “Nani?”

Kamakari tersenyum licik kemudian mengeluarkan pematik besar berbentuk puteri duyung berwarna emas (diduga terbuat dari emas 22 karat), mengambil sebatang rokok berwarna hitam yang sangat tipis dan panjang, kemudian menyulutnya perlahan. “Jangan bercanda. Kau jelas tahu apa yang kumaksud. Aku tidak ingin main kucing-kucingan, Yamashita.”

Tomo mendelik, menatap tajam dan lurus ke mata picik penuh maksud bulus milik Kamakari. “Oke, cuma antar kan? Kemana?”

Kamakari mendekat ke belakang Tomo, memeluknya dari belakang, kemudian menyelipkan secarik kertas ke kantung di jaketnya. “Tidak tertarik?” tanyanya, berbisik tepat di telinga Tomo.

Tomo langsung menghindar. “Kalau begitu aku akan langsung pergi,” ujar Tomo, membungkuk, lalu segera berbalik menuju pintu, sama sekali tidak menoleh kembali kepada Kamakari-san.

Begitu keluar, Tomo tidak bisa menemukan Yuki. Makhluk-makhluk berseragam jas hitam itu juga sama sekali tidak mau buka mulut. Mulai panik. Tapi tidak ingin meminta bantuan pada Kamakari. Namanya sama saja cari mati. Lama-lama Tomo mulai panik. Adik yang sangat disayanginya itu tak dapat ditemukan olehnya. Sementara sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu semenjak Tomo keluar dari ruangan Kamakari. Di tengah kebingungannya itu, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Bertubuh kecil, mungil, dan berambut agak kecokelatan. Dengan wajah lesu dan lusuh.

“Yuichi!” suara Tomo yang lantang segera berteriak memanggilnya. Yucihi menoleh. Setengah tidak sadar. Matanya terlihat tidak begitu bercahaya. Ia nampak sangat tidak bersemangat. Tomo segera berhambur menghampirinya, memeluknya erat-erat. “Aku pikir aku kehilanganmu lagi,” ujar Tomo setengah berbisik di telinga kanan Yuichi.

Tapi Yuichi tak menyahut.

- Evening, 8 PM –

Tomo menutup kepalanya dengan topi berwarna hitam dengan coret putih di beberapa sisinya, terlihat seperti corak macan putih. Jaket kulit hitamnya nampak menjuntai menutupi tubuhnya hingga pahanya, cocok untuk musim gugur yang dingin. Terlihat misterius? Ia berusaha untuk nampak seperti itu. Ah, sok gaya. Ia memasukkan kedua kakinya ke dalam sepatu bot berwarna hitam. Sebelum pergi, ia tersenyum tipis, melemparkan tatapan singkat pada catatan di atas kulkas yang bertuliskan:

Aku kerja malam ini. Pub Dilothre. Mampirlah kalau ada waktu. Yuichi.

My, ini adalah sebuah kejadian yang sangat langka dalam hidup Tomo. Untuk yang pertama kalinya Yuichi memberikan nama tempat ia berkerja. Diundang? Tentu Tomo akan datang dengan senang hati. Setelah ia menyelesaikan tugas sial ini tentunya.

Bus umum setidaknya masih beroperasi. Tomo naik dan duduk di pojok paling belakang lalu menutupi wajahnya dengan menenggelamkan topinya lebih dalam. Sementara tangan kanannya terus memastikan bahwa ‘barang’ itu tetap aman di dalam saku jaketnya di bagian dalam.

Sampai di terminal pemberhentian dekat daerah pembuangan, Tomo turun. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Sepi. Tak ada seorangpun yang lewat. Ia melangkah dengan hati-hati. Gelap, hanya ada lampu remang-remang yang tak meyakinkan kapan akan putus. Ia berjalan menuju ke daerah yang lebih gelap dan lebih dalam. Kotor dan bau. Banyak makhluk malam berkeliaran dengan liar di sana. Dan kemudian akhirnya ia sampai di tempat tujuannya. Sebuah garasi tua dengan tutup seng yang terkoyak dan penuh coretan pilox. Tomo mengetuknya empat kali. Lalu sebuah suara menyahut dari dalam.

“Siapa?”

Kami wa shinsetsu desu...” sebuah kata kunci yang aneh. Kamakari sudah memberi tahu di akhir notesnya.

Terdengar suara ribut-ribut dari dalam, gelontangan-gelontangan barang yang tak berguna. Dan akhirnya tutup seng itu terbuka. Seorang laki-laki dengan otot kekar dan brewok yang mantap keluar. Mendelik ajam pada Tomo, yang dibalas dengan pelototan manis. Ia mengantar Tomo masuk ke dalam, bertemu dengan boss-nya. Tomo mengenal boss itu dengan baik. Sudah beberapa tahun ia mengantarkan ‘barang’ ke gembong penjahat itu.

“Lama tak jumpa, Tomohisa-kun~” nada suaranya juga tak pernah berhenti mengejek. “Wajahmu juga tidak pernah ditekuk.” – (Hirofumi Araki).

Kisashiburidane, Hirofumi-san. Rambutmu terlihat indah hari ini,” ujar Tomo, sedikit tersenyum, dengan mata yang masih terhalang topi. Apa perdulinya dengan kesopanan pada laki-laki di depannya? Tidak ada. Sementara Hirofumi asyik menyibak-nyibakkan rambutnya yang panjang dan lurus, seperti orang yang salah tempat, di daerah sekotor ini, ia malah paling terlihat bersih apalagi dengan sosoknya yang narsis.

“Mulutmu juga pintar. Diajari banyak hal oleh Kamakari?”

Tomo hanya merogoh sakunya, menarik kantong berwarna cokelat tua, kemudian melemparkannya ke arah Hirofumi. “Antaran dari Kamakari.”

Hirofumi kembali menyibakkan rambutnya, membuat Tomo mengernyit, sedikit kesal dengan tindakan makhluk narsis itu. Ia nampak mengecek isi bungkusan itu, kemudian memicingkan matanya lalu berpaling pada Tomo, tersenyum ‘setengah’ puas. No Way. He want to do it again? “Mana bayaranku?” tanya Tomo singkat.

“Kau tahu apa itu, right? Sebelumnya, mari sodara-sodara, kita bersenang-senang malam ini. Dan ups, jangan lukai wajahnya. Nanti Kamakari akan protes padaku. Aku tidak mau membuatnya marah kali ini~”

- Evening 9.15 PM -

Tomo berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju terminal perhentian bus. Setidaknya, jika ia beruntung, akan ada satu atau dua bus yang lewat ke daerah terpencil dan meragukan ini. Ia memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri dan kesakitan. Sial kau Hirofumi. Bagus kau masih tahu diri untuk tidak melukai wajahku. Tomo hanya bisa bersandar pada tiang stasiun. Topinya masih menempel dengan manis di kepalanya. Sementara beberapa gepok uang tergantung aman di dalam saku jaketnya. Tomo mengusap darah di mulutnya. Kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya yang berat. Nyaris pingsan karena sakit.

Namun ia tidak lupa akan janjinya pada diri sendiri.

Janji untuk mampir menemui Yuichi.

Dan ia tidak akan mengecewakannya.

Karena Tomo sangat mencintainya. Lebih dari apapun di dunia ini.

Dan mungkin menjadi satu-satunya penopangnya saat itu untuk tetap hidup dan berjalan. Ia menyeret kakinya dengan sedikit pasrah, merapat, menghalau hawa dingin. Nampak agak buram dan kabur, perlahan-lahan ia melihat titik cahaya kekuningan, makin lama makin dekat. Dan akhirnya bus itu berhenti tepat di depan terminal. Tomo menatapnya penuh harap, kemudian naik.

- Evening 9.25 PM -

Pub Dilothre, besar, anggun, dan khusus untuk orang-orang papan atas. Biasanya untuk orang biasa harus memiliki membership card. Istilah sok kerennya begitu. Padahal tak lebih dari bayaran-bayaran yang tak kalah mahal. Pub ini menjamin semua anggota komunitasnya adalah orang-orang yang bisa diajak berkerja sama, untuk mengerjakan pekerjaan kotor mereka tentunya.

Yuichi sedikit tersenyum kecil, sambil asyik mengelap gelas-gelas wine di depannya yang berderet dengan rapih. Seragam kerjanya sebagai pelayan nampak sangat mencolok baginya sendiri. Rompi merah marun dengan celana panjang hitam dan kemeja putih, eh? Sebenarnya Yuichi tak suka tapi mau apa dia?

Sayaka Akimoto (Anggota AKB), seorang gadis yang setahun lebih tua dari Yuichi nampak sibuk menghitung pemasukan kas. Ia sama-sama seorang part-timer dan berkerja pada Kamakari demi melunasi hutang-hutang keluarganya.

“Ada yang bisa kubantu, eh, Sayaka-san?” tanya Yuichi, ramah dan melemparkan sebuah senyum manis khas miliknya pada gadis berambut panjang itu.

Ia nampak terkejut kemudian panik sendiri dan berwajah kemerahan. “Eh, tidak perlu, tidak perlu, Nakamura-san. Dan oh, sebaiknya kau layani meja nomor dua belas itu. Dari tadi ia sudah mengaum-ngaum dengan tangannya yang panjang,” ujar Sayaka, agak genit, lalu menyodorkan nampan berisi sebotol vodka dan tiga gelas kosong.

Yuichi melongo. “Itu tugasmu kan?”

Sayaka mengatupkan kedua telapak tangannya kemudian membungkuk. “Onegai, Nakamura-san! Aku... agak takut pada mereka...” Yuichi bisa melihat tatapan sedih gadis itu. Dan akhirnya ia mengangguk.

Yuichi keluar dari counter barnya, mengangkat nampan tersebut, kemudian berjalan ke meja yang paling pojok. Dua orang pria, dikelilingi 4 wanita penghibur. Yang satu nampaknya adalah bosnya sementara yang satunya lagi nampak sangat gugup, tidak terbiasa berada di tempat se-nista ini, dan rasanya hanya bawahan rendahan yang sedang sial karena harus menemani bos-nya yang sinting itu untuk minum-minum. Padahal kalau boleh dibilang, bosnya itu nampak sangat muda. Tuan muda mungkin? Hmm...

“Permisi, tuan,” ucap Yuichi, sedikit memiringkan tubuhnya kemudian menaruh botol vodka itu di meja beserta tiga gelas kosongnya. Yuichi sudah mau beranjak pergi ketika tangannya mendadak di tarik oleh seseorang—tuan muda itu.

“Kau minum?” tanya-nya, matanya yang bulat itu menatap Yuichi lekat-lekat.

“Emm.. ya kalau anda menghendaki saya juga bisa menjadi teman minum,” jawab Yuichi. Kesopanan adalah hal yang paling dijunjung tinggi jika ia ingin berkerja di bar tersebut. Kemudian Yuichi duduk di sebelahnya, menuangkan vodka tersebut dari gelas ke gelas.

Tuan muda itu nampak senang. Kemudian mengambil gelasnya dan mengajak toast.

Berkali-kali. Dan Yuichi dengan bodohnya tidak konsentrasi. Ia bahkan tak menyadari kalau pada saat-saat ia lengah, tuan muda itu telah memasukkan obat ke dalam gelas Yuichi. Akibatnya, beberapa menit kemudian ia sudah lunglai di bahu tuan muda itu.

Dengan singkat, tuan muda itu membopong Yuichi di lengangnya, berdiri, seakan tidak minum vodka sama sekali padahal kenyataannya sudah lebih dari 3 botol ia habiskan, lalu masuk ke kamar sewaannya di lantai 4 Bar itu, kamar VIP.

“Yuya-sama, perlu bantuan apa lagi?” tanya laki-laki yang dari tadi menemaninya duduk minum-minum sebelum Yuichi datang.

Yuya hanya mengelak kecil, memberi tanda tidak perlu dengan mengayunkan tangannya singkat. Dan pelayan itu pergi. Yuya menurunkan Yuichi di ranjangnya. Kemudian menatapnya dengan dalam. Wajah itu, wajah polos dan tak berdosa yang selalu Yuya pandang dari kejauhan. Tangannya merogoh sakunya, mengambil handphone-nya yang berwarna merah marun. Dan dengan cepat menekan tombol-tombol angka.

“Oke, Kamakari. Dia di tanganku,” ujar Yuya enteng, kemudian segera menutupnya dan melempar benda elektronik itu dengan cepat ke tempat sampah.

Yuya duduk di samping Yuichi, memegang tangannya. Kemudian mengelus-elus wajahnya. Dan mendaratkan kecupan manis di dahi Yuichi, bergeser ke bawah dan akhirnya sampai di lehernya, meninggalkan sebuah Kiss Mark yang sangat jelas di leher bagian kirinya. “Kau tahu Yuichi, aku sudah mencintaimu dan menunggumu begitu lama,” ujarnya kecil, kemudian perlahan-lahan membuka kancing baju Yuichi satu persatu.

Tubuh itu begitu indah. Dan Yuya tahu, tubuh itu sama sekali tidak bernoda dan bercela. So he will be the first, huh? Yuya tersenyum licik. Dan kemudian mencium Yuichi dengan penuh hasrat, seakan ingin memakan seluruh tubuhnya itu dengan mulutnya. Menimbulkan sedikit desahan-desahan kecil dari mulut Yuichi. Dan malampun membubung.

- Morning 4.30 AM -

Gelap. Dan.. Yuichi terbangun dari tidurnya yang lelap. Menyadari bahwa dirinya sudah tidak berpakaian secara utuh. Kepalanya berat dan sakit. Apa yang terjadi tadi malam? Mengapa ia tidak bisa ingat?

Yuichi nyaris saja menjerit keras-keras ketika ia melihat seorang laki-laki asing di sebelahnya andaikata ia tidak bisa menahan dirinya sendiri. Gila. Apa-apaan ini? Tunggu. Coba dipikir baik-baik. Siapa laki-laki itu, hmm?

Another costumer?

Deg.

Perlahan-lahan, rasa pedih yang tadinya sudah tertutup dengan rapih di dalam hati Yuichi mulai terbuka kembali. Hatinya terluka. Sakit. Dan putus asa. Seakan tidak ada harapan yang mampu menolongnya.

Kenapa ia bisa begitu saja menerima semua itu? Menerima semua peerbuatan laki-laki hina? Semua hanya untuk kakaknya. Kakak yang paling disayanginya. Yuichi sendiri pasti tahu. Kalau sebenarnya tuan muda yang dilayaninya tadi malam memang salah satu antek-antek kerja sama Kamakari.

Yuichi bangun perlahan-lahan, tidak berharap agar tuan muda itu tahu. Ia kemudian mengenakan kemejanya, dan kabur ke luar.

Bus umum sudah menanti di terminal. Sementara Yuichi masih tergopoh-gopoh berlari. Untungnya ia berhasil naik tepat waktu sebelum pintu bus di tutup. Ia duduk di pojok paling belakang, tempat favoritnya—yang juga tempat favorit orang itu. Pikirannya kacau. Malam tadi, ia kembali jatuh ke dalam jurang bernoda. Ia mengkhianati kakaknya secara tidak langsung. Seluruh perasaannya berkecamuk. Perasaan menyesal, bersalah, putus asa, dendam, amarah, kesedihan, dan cinta. Tanpa ia sadari, air matanya menitik, turun membasahi pipinya. Sementara matanya menatap galau pada pemandangan Tokyo pagi itu. Sakit. Hatinya sakit. Ia ingin segera pergi dari semua itu. Walau itu terasa tak mungkin.

Yuichi sampai di depan gedung apartemennya. Kemudian ia naik ke lantai empat melalui tangga. Di tapakinya satu demi satu. Hingga akhirnya sampai di depan rumahnya sendiri. Ia terdiam. Tangannya terasa kaku, tak mau membuka handel pintu.

Tapi tiba-tiba pintu terbuka.

Dan Yuichi menatap mata Tomo.

Ia terlihat begitu panik dan khawatir. Kemudian langsung menghambur keluar dan memeluk Yuichi.

“Tadaima...” ujar Yuichi, suaranya agak parau dan serak.

Sementara Tomo hampir tak bisa berkata apa-apa. Ia begitu khawatir karena tak dapat menemukan Yuichi tadi malam. “Okaerinasai...”

Rabu, 19 November 2008

IT - Chapter 1


Title: Innocent Trap

Pairing: Pi – Chanaka

Genre: Shounen-ai, Angst, Tragedy.


Chapter 1: Darkness inside me

Even we are tore appart

I will always be with you

With all my power

I will come to you and protect you

Seberkas cahaya putih masuk menerobos tirai-tirai putih transparan yang tergantung di jendela. Menabrak meja kayu kemudian jatuh di bawah tempat tidur, dekat kaki yang menggantung tanpa harapan, dibalut dengan selimut putih tipis. Musim panas sudah hampir berakhir. Daun-daun mulai mengering dan memerah. Tapi Yamashita Tomohisa belum memiliki selimut dan berbagai keperluan lainnya untuk menyambut musim dingin. Laki-laki itu menggeliat-geliat di atas tempat tidurnya. Cukup kedinginan. Apalagi jendela kamarnya baru saja rusak kemarin. Tidak bisa ditutup. Menyengsarakan setiap persendian dan tulangnya. Ia sama sekali tidak menggunakan selimut itu semalaman. Jauh lebih memilih untuk menyerahkannya pada sosok yang lebih kecil di sebelahnya, Nakamura Yuichi yang nampak tidur sangat pulas. Selimut menutupi seluruh tubuhnya. Tentu ia merasa sangat hangat.

Tomo bangun dari tempat tidurnya kemudian melangkahkan kakinya dengan langkah gontai menuju dapur. Harus memasak. Kalau tidak mereka berdua tidak akan makan apa-apa hari ini. Lututnya sakit. Kaku dan sulit digerakkan. Tapi ia terus memaksakannya. Ia membuka kulkas yang tingginya tidak lebih dari 130 senti itu. Nyaris kosong. Hanya ada beberapa sayur dan tiga butir telur. Juga sebotol kimchi—asinan khas korea—yang masih penuh. Mereka akan tetap hidup selama dua hari. Tapi Tomo terlalu lelah dan capek untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia baru saja kembali pukul 3 pagi ini. Hanya beristirahat selama tiga jam tidak cukup. Demi uang, ia bekerja mati-matian. Dan demi orang itu. Pisau ditangannya terpeleset dan jatuh. Nyaris melukai kakinya. Suaranya cukup keras. Tomo segera memungutnya.

Dan sebuah tangan dari belakang memegang tangan kanannya yang memegang pisau.

Tomo menoleh ke belakang. Yuichi ada di sebelahnya. Hanya berjarak beberapa senti meter. Senyuman manis laki-laki itu membuatnya tenang. Bahkan beberapa detik kemudian, Yuichi dengan cepat memainkan pisau itu di jari-jarinya. Memutarnya lalu mengiris satu demi satu timun sampai benar-benar halus dan tipis. Lima belas menit kemudian, sarapan pagi itu siap. Seperti pagi-pagi lainnya, tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Suara Yuichi seperti terkunci atau membisu di pagi hari setelah ia pulang bekerja. Entah apa pekerjaan yang ia lakukan. Ia tidak pernah mau memberi tahu Tomo. Walaupun terkadang Tomo memaksanya untuk memberi tahu atau menguntitnya, entah bagaimana, Yuichi selalu bisa lolos.

“Itadakimasu~” seru Tomo kemudian melahap campuran timun lobaknya. Lezat. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan Yuichi dalam memasak memang sangat hebat, melampaui dirinya. Tomo bangga memiliki adik seperti Yuichi. Senyumnya selalu menghangatkan seisi rumah yang dingin. Perhatian Tomo segera teralih ketika matanya tidak sengaja melihat tanggal kalender. Tanggal 5. Sudah tenggat waktu. Ia harus menemui Kamakari-san. Tomo benci hari-hari seperti ini. Ia melirik Yuichi yang sedang sibuk melahap sarapan paginya. Hatinya serasa menjerit ketika harus ikut membawa bocah 18 tahun itu. Pikirannya masih kekanak-kanakan dan belum terbuka. Tomo tidak ingin menyeretnya masuk lebih dalam ke dalam sisi gelap Tokyo.

Tomo membereskan semua piring. Ketika bersiap untuk pergi, Yuichi sudah ada di depan pintu, menunggu Tomo untuk pergi ke markas Kamakari-san. Ah, sekali lagi mata itu. Mata yang menerobos masuk ke dalam hati. Mata bulat yang polos dan dalam. Tomo menghela napas. Tidak dapat berbuat banyak. Inilah masyarakat kecil yang bergantung pada lintah darat menjijikkan. Pernah mereka kabur tapi kemudian hasilnya malah jauh lebih buruk. Tomo sendiri tidak menyangka Yuichi dan dirinya akan diburu dengan gencar. Padahal mereka tak lebih dari semut-semut peliharaan Kamakari.

Tua bangka sialan.

Maunya Tomo juga berkata begitu pada Kamakari. Terang-terangan. Tidak pakai basa basi. Tapi kekuatan dan kekuasaan orang itu begitu besar dan tidak dapat di tolak.

Cuaca akhir musim gugur sangat dingin. Pohon-pohon di sepanjang trotoar nampak kemerah-merahan. Beberapa rontok dan mengotori jalanan. Yuichi sangat senang menendang-nendang setiap gumpalan daun kering. Senyum manis dan polos selalu terukir di wajahnya. Jaket cokelat pasir yang dikenakan Yuichi sangat kontras dengan hawa musim gugur. Sementara Tomo sama sekali tidak perduli dengan penampilannya yang seperti preman. Jaket kulit hitam panjang. Oke, tidak ada yang protes.

“Pakai ini,” ujar Yuichi dengan suara serak. Belum kembali seutuhnya. Syal merah yang membelit lehernya dikalungkan pada Tomo yang otomatis langsung terkejut dan berusaha menolak. “Dan jangan menolak,” tambahnya lalu berjalan lebih dahulu ke depan. Tomo sama sekali terpaku. Rasanya tidak lebih dari tiga belas tahun yang lalu semenjak mereka mulai hidup berdua, sendiri, tanpa kerabat dan sanak saudara, juga bantuan dalam mempertahankan hidup.

Nakamura Yuichi, laki-laki berumur 18 tahun. Keberadaannya seperti orang lain bagi Tomo. Entah mengapa, di dalam hatinya masih ada yang terus mengganjal. Walaupun ia sendiri mampu mengakui bahwa Yuichi adalah adik tirinya, hasil pernikahan ibunya dengan laki-laki lain. Wanita itu terlalu sibuk dengan urusan cintanya sendiri, tidak perduli dengan anak-anak maupun keluarganya. Kalau dibilang secara singkat, gadis nakal yang hobi bermain-main cowok. Ada perasaan dendam dan benci di dalam diri Tomo terhadap wanita itu karena ia telah menelantarkan Tomo dan Yuichi. Seperti yang telah terjadi 13 tahun yang lalu, di bulan yang sama, musim gugur...

- 13 tahun yang lalu –

Daun-daun mulai mengering. Meninggalkan banyak jejak di tanah. Seluruh Jepang seakan disihir hingga berwarna merah. Angin mulai bertiup kencang dengan membawa udara dingin yang cukup menusuk. Dua anak laki-laki berlari-lari kecil dibawah pepohonan merah. Keduanya nampak sangat antusias.

“Yu! Hati-hati nanti kau jatuh!” seru Tomo kecil dengan matanya yang bulat dan berbinar-binar. Napasnya mulai terputus-putus. Ia tidak bisa menyaingi Yuichi kecil yang gesit.

“Tidak akan! Ayo, cepat! Hari ini kita makan daging!” balas Yuichi kecil yang masih sibuk berlari di depan.

Daging. Sebuah kata-kata yang terdengar cukup asing di telinga kedua bocah tersebut. Hanya dalam acara-acara tertentu, mereka bisa makan daging. Selain karena harganya yang mahal, kedua makhluk yang statusnya adalah orang tua mereka itu sama sekali tidak pernah perduli dengan kedua anaknya. Lalu, dari mana daging yang akan datang itu? Dari paman mereka yang jelas lebih sayang kepada keponakannya.

Mereka berdua menaiki tangga-tangga yang curam dan tinggi. Butuh usaha dan waktu untuk sampai ke atas. Rumah mereka agak jauh dari keramaian kota, namun paling dekat dengan dunia malam. Yuichi berhasil sampai terlebih dahulu. Mereka sampai di sebuah apartemen kecil, kumuh, tapi cukup besar. Biaya sewanya murah karena lokasinya yang sangat tidak strategis dan dekat dengan tempat-tempat kotor.

Yuichi melepas sepatu kets putihnya ketika ia masuk ke dalam rumah. Ada peraturan. Dan itu yang paling Tomo benci. Baru saja mereka masuk, terdengar bunyi piring-piring yang pecah.

PRAAAANG~!!

Oke, apa lagi kali ini, huh?’ Tomo mendengus, mendekap Yuichi yang tubuhnya lebih kecil dan lebih pendek beberapa senti itu.

“Wanita kotor! Justru aku mempertanyakan kenapa bisa menikah denganmu!!”

Suara ayah? Bertengkar, lagi?

Tidak ada suara. Namun bau asap rokok yang pekat membubung di dalam ruangan, tidak bisa keluar. Jelas sumber penyakit. Tomo memberanikan diri untuk menjulurkan kepalanya dari balik tembok, ingin tahu apa yang terjadi.

Dan dirinya begitu terkejut. Kaget. Tidak mampu berkata-kata.

Pamannya sedang asyik duduk di atas tempat tidur, masih asyik bercumbu dengan ibunya sementara ayahnya sudah mencak-mencak di sebelahnya. Ini namanya orang-orang tidak tahu etika, atau moral, atau... yah, sebagainya.

“Lebih baik kau diam, Sato,” jawab ibunya yang tampak sangat cuek. Tidak perduli dengan apapun, termasuk serpihan piring yang berserakan di lantai dekat tempat tidur mereka. “Kau tak punya hak untuk melarangku.”

“Oh, ya? Setelah apa yang kau lakukan, aku tidak punya hak?” Kali ini, habis sudah kesabaran ayahnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi kemudian dengan sekuat tenaga, menampar wajah cantik namun menjijikkan milik ibunya. Setelah itu mengambil tasnya, dan seluruh barang lainnya yang ia beli di rumah itu juga di angkut ke dalam mobil pickup-nya yang besar.

Yuichi menarik-narik kemeja ayahnya. “Chi chi, mau kemana?” tanyanya. Dirinya yang saat itu masih terlalu polos. Matanya tertuju ke depan. Tak ada sebesitpun noda yang ada pada dirinya.

Namun, ayah yang tidak bertanggung jawab itu menyamplak tangan Yuichi. “Aku tidak pernah memiliki apapun dengan wanita liar itu. Never,” ujarnya dingin. Dan beberapa menit kemudian, kedua bocah itu hanya menatap mobil pickup berwarna putih yang menuruni jalan penuh liku.

Kali itu, Tomo pertama kali melihat, air mata penuh kesedihan, kesepian, dan tumpahan perasaan Yuichi.

Ia menangis.

---

Bayangkan saja kalau seorang istri, malah selingkuh dengan adik dari suaminya. Yang terjadi adalah rumah tangga yang semakin hancur. Sementara sang ibu sama sekali tidak merasa kehilangan. Ia jadi semakin liar. Paman tinggal di rumah, menggantikan ayah. Tapi keadaan tidak berubah menjadi semakin baik.

GPLAAK!!

Lagi-lagi, ibu menampar Yuichi. Memukulnya dengan sapu. Atau kalau perlu diikat seperti hewan peliharaan. Tomo sering kali merasa kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa-bisa malah dia yang kena hukum.

Setiap hari, ibu pulang pagi dan pergi di malam hari. Ia selalu ada di rumah selama siang hari dan siap memerintah.

Hingga akhirnya suatu hari, Ibu membawa Tomo dan Yuichi untuk berjalan-jalan.

Dan sebuah hal yang mengerikan terjadi.

“Tunggu disini, oke? Awas kalau jalan-jalan,” ujar wanita itu dengan bibir yang masih merah karena lipstick yang lupa dihapus.

Namun setelah berjam-jam, ibu tidak kunjung kembali menjemput anak-anaknya. Padahal mereka berdua masih menunggu di stasiun kereta. Yuichi mulai kedinginan. Baju yang dikenakannya sudah usang dan tak mampu menahan udara dingin.

Bahkan hingga malam datang dan kereta sudah tidak beroperasi, mereka masih tetap menunggu. Tomo, masih belum bisa melupakan pengkhianatan paling kejam itu. Ia tidak berniat untuk kembali ke rumahnya, rumah yang dingin tanpa kasih sayang, Lebih baik hidup melunta-lunta dibanding harus kembali ke rumah terkutuk itu!

- Back to present time –

Seperti biasanya, gedung milik Kamakari sangat besar. Lintah darat. Tomo tahu apa yang akan terjadi kalau ia bertemu dengan Kamakari-san. Tapi entah apa yang Yuichi mengerti. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan urusan yang berat-berat.

Ketika masuk, empat orang dengan baju yang seragam, jas hitam plus kacamata, segera mencegat Tomo dan Yuichi. Kemudian digiring menuju lantai puncak, tempat Kamakari sedang asyik duduk dan bersantai, bermain di balik mejanya sambil menggoyang-goyangkan bidak catur bernama manusia.

Tomo duduk tepat di depannya, sementara Yuichi digiring ke tempat lain, seperti biasa. Seakan apa yang akan Tomo dan Kamakari katakan adalah rahasia besar, bahkan Yuichipun tidak perlu tahu. Tomo merasakan perasaan yang tidak enak. Kamakari tersenyum seperti biasa. Senyum sial. Pasti banyak maksud dibaliknya. Kamakari tidak tua, malah sangat muda. Umurnya dengan Tomo hanya terpaut 6 tahun lebih tua. Tapi sifatnya benar-benar seperti ero-jiji. Segeralah berbicara, Tomo tidak ingin berlama-lama disana, apalagi membawa masuk Yuichi ke dalam sarang penyamun itu. Hanya satu orang yang harus ia lindungi di dunia ini. Nakamura Yuichi...